Posted by: Nando | 5 March 2008

Penataan Kapitalisme Liberal dalam Perjalanan Selandia Baru

Selandia Baru merupakan sebuah negara di kawasan Pasifik Selatan yang saat ini tengah menikmati pesatnya perkembangan ekonomi mereka dalam naungan kapitalisme. Namun siapa yang menyangka bahwa kapitalisme warisan tradisional negara ini pada era 1980-an mengalami stagnasi dan rakyatnya hidup dalam proses merangkak dari kehidupan yang terisolasi secara kultural dari lingkungan internasional.

Stagnasi ekonomi Selandia Baru dimulai pada periode 1970-1980-an, dimana saat itu Selandia Baru terkena dampak resesi ekonomi karena ketergantungannya pada Inggris. Inggris yang merupakan pemasok utama kebutuhan ekonomi Selandia Baru ketika itu memutuskan untuk masuk ke dalam Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) di tahun 1970, dan pada saat itu juga impor Selandia Baru mengalami kemerosotan.

Masalah yang paling terlihat di Selandia Baru pada era 1980-an sampai era 1990-an adalah stagnasi perekonomian dan kondisi masyarakatnya yang terisolasi secara kultural dari belahan bumi lainnya. Jika kita lihat kondisi lingkungan dan pembangunan kota Auckland dan Wellington di tahun 1990, dan dibandingkan dengan Australia, Hongkong, dan kota-kota besar lainnya, maka akan tampak bahwa pembangunan di Selandia Baru sangatlah lambat, karena keadaan visual kota seperti keadaan pada tahun 1970-an.

Perdana menteri saat itu sangatlah bersifat populis, kebijakan-kebijakan yang diambil terlihat hanya untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat, terutama dalam hal ini partai buruh. Jadi, alih-alih mengambil kebijakan untuk menyelamatkan perekonomian, pemerintah malah terlihat sangat sosialis dengan meningkatkan kontrol negara dalam semua sektor, termasuk perbankan dan perdagangan. Selandia Baru terbukti dapat bertahan dari permasalahan tersebut, salah satunya adalah dengan mengadakan pembaharuan di sektor ekonomi. Politisi partai saat itu mulai menyadari pentingnya sebuah solusi cepat untuk perekonomian mereka, dan saat pemilihan umum berlangsung isu-isu seperti peningkatan mikroekonomi dan penghapusan proteksionisme hangat dibicarakan.

Ekonomi kapitalis liberal dan politik demokrasi yang diwariskan Inggris merupakan identitas ideologi Selandia Baru. Identitas ideologi tersebut telah lama melekat pada negara ini, namun, kebijakan proteksi dan manajemen yang buruk kemudian membuat negara tersebut jatuh dari ranking dunia. Seperti halnya negara-negara kapitalis liberal Selandia Baru sangat tergantung pada keberadaan pasar guna menunjang perekonomiannya, pasar produk Selandia Baru pada awalnya adalah Inggris dan negara-negara Eropa, sedangkan bahan-bahan mentah diperoleh dari hasil nasional dan koloni-nya negara-negara di Pasifik Selatan (dekolonialisasi mulai tahun 1960). Isu-isu pemilu mengenai perubahan orientasi hubungan luar negeri juga turut mempengaruhi.

Berdasarkan pada pola tradisional yang ada, dan juga kebutuhan akan akses pasar baru ke belahan dunia lainnya, seperti misalnya Asia yang dalam hal ini China, Jepang, dan ASEAN, kabinet terpilih Selandia Baru mulai menetapkan sasaran-sasaran pasar potensial bagi ekspornya. Tidaklah mudah untuk menerapkan tujuan ekonomi tersebut, karena ditengah situasi Perang Dingin yang masih hangat saat itu, Selandia Baru masih menghadapi kendala seputar asumsi-asumsi mengenai komunisme di Asia yang juga tercantum dalam kebijakan-kebijakan luar negerinya. Selandia Baru kemudian menyelesaikan masalah tersebut dengan merevisi kebijakan pertahanannya pada tahun 1978 yang telah menyebutkan ancaman terhadap Selandia Baru bukan berasal dari komunis di Asia, ataupun fasisme Jepang, masalah yang dihadapi dewasa ini adalah masalah ekonomi bukannya ideologi dan militer, seiring dengan revisi tersebut, Selandia Baru pada saat itu dengan secara tidak langsung telah memperluas ruang perekonomiannya, yang tadinya terfokus pada Inggris.

Ideologi dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara memandang segala sesuatu, secara umum dan beberapa arah filosofis yang diajukan oleh kelas yang dominan pada seluruh anggota masyarakat. Tujuan utama dibalik ideologi adalah untuk menawarkan perubahan melalui proses pemikiran normatif. Perang ideologi antara Amerika Serikat dan Uni Soviet saat itu tidak terlalu mempengaruhi pandangan masyarakat Selandia Baru. Namun kondisi pola manajemen pemerintah pada tahun 1970 sempat berwarna sosialis, karena partai buruh yang berkuasa pada saat itu lebih mendukung kebijakan-kebijakan yang bersifat sentralistik dan mencakup semua.

Meskipun Selandia Baru dekat dengan sistem monarki, negara ini mendukung kebebasan hak-hak individu, menentang kolonialisme, dan pendukung demokrasi, hal itulah yang mendasari tindakannya untuk melakukan dekolonialisasi seluruh negara-negara bawahannya di Pasifik Selatan. Serta aktif membantu proses perdamaian di kawasan tersebut. Dukungan Selandia Baru terhadap demokrasi dapat kita lihat dengan adanya proses pemilihan umum yang telah dilakukan sejak lama. Referendum guna penerapan sistem pemilihan legislatif telah dilakukan pada tahun 1996, dan pemilihan perwakilan legislatif, distrik dan kota dilakukan secara langsung.

Perjalanan kapitalisme liberal memiliki sejarah yang amat panjang, dan telah melahirkan warna-warna baru dalam perkembangannya. Sebuah ideologi hanyalah merupakan landasan yang dianggap oleh sebuah negara sebagai kerangka kehidupan bernegara rakyatnya. Selandia Baru dengan kapitalisme liberal yang diterapkannya telah mengalami jatuh-bangun yang kemudian melahirkan semangat pembaharuan baru. Bagaimana dengan negara kita Indonesia?


Responses

  1. yakin model kapitalisme akan terus jadi role modelnya new zealand disaat kapitalisme dunia saja sedang goyah??

    ditandai oleh ketiakstabilan malah cenderung melemahnya ekonomi AS??

    bahkan beberapa golongan telah memprediksi jika hal ini terus berlangsung bisa menimbulkan resesi global??

  2. yakin model kapitalisme akan terus jadi role modelnya new zealand disaat kapitalisme dunia saja sedang goyah??

    ditandai oleh ketiakstabilan malah cenderung melemahnya ekonomi AS??

    bahkan beberapa golongan telah memprediksi jika hal ini terus berlangsung bisa menimbulkan resesi global??

    gimana?

    argumen anda??

  3. Klo gw sih masih yakin terus bertahan, meskipun antara Selandia Baru dan AS keduanya sama2 kapitalis liberal, fondasi bisa kita liat beda.

    AS dalam perekonomiannya mengandalkan industri-industri besar seperti elektronik, mesin,
    senjata, dll yang semuanya memakai teknologi, bahan bakar, dan pastinya modal..yah..semuanya juga pasti butuh modal..hehehe

    Selandia Baru, negara industri juga, tapi yang diutamakan bukan industri besar kayak AS. Selandia Baru lebih mendasarkan perekonomiannya pada jasa, produk makanan, dan pengolahan kayu. Semuanya dari awal disesuaikan dengan potensi SDA, dan letak geografisnya yang terpencil. Bayangin aja kalo mereka ngotot mo ngandelin industri besar, biaya impor bahan baku dan distribusi produk akan sangat mahal.

    Fluktuasi perekonomian sebuah negara khan dapat pengaruh dari faktor2 lain juga kayak politik, sosial, serta faktor-faktor ekonomi itu sendiri (makro, mikro). AS banyak ngeluarin modalnya untuk kebijakan polugri termasuk biaya perang. Semua hal tersebut pastinya membutuhkan tambalan dana.

    Sebagai negara konsumen no-1 minyak dunia, perekonomian AS sangat dipengaruhi oleh minyak, makanya stabilitas harga dan kepastian suplai jangka panjang kemudian jadi prioritasnya. Tentunya mereka ngga mau lagi ngalamin resesi ekonomi kyk di tahun 1970-1980 (oil shock I & II).

    Selama output dari sebuah sistem masih dinilai baik maka sistem tersebut dapat terus menjadi model standar. Sosialisme misalnya, penerapannya selama ini dinilai kurang mampu menghasilkan apa yang dapat dicapai oleh kapitalisme, sehingga kemudian banyak negara yang menjadikannya sebagai model dasar.

    Kapitalisme saat ini harus diakui belum memiliki model saingan, yang dapat memberikan output yang lebih baik. Kalaupun terjadi resesi, hal tersebut akan dianggap sebagai kesalahan eksternal sistem. Isu resesi global saat ini lebih dilihat karena faktor eksternal sistem misalnya kelangkaan SDA dan kondisi politik internasional, makanya fokus negara2 kemudian diarahkan pada pencarian SDA alternatif dan stabilitas politik dibanding sistem.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: