Posted by: Nando | 27 May 2008

Perang Abad ke-19 di Selandia Baru

Perang di abad ke-19 telah mengubah wajah Selandia Baru. Setiap sepuluh dari ribuan ras Maori tewas dalam Perang Musket pada tahun 1810-an, 1820-an, dan 1830-an. Diawali dengan persaingan di wilayah utara antara suku Nga Puhi dan suku Ngati Whatua, keseluruhan suku di Selandia Baru akhirnya segera masuk dalam perdagangan untuk mendapatkan musket. Musket mengubah pola peperangan antar suku, mengurangi populasi beberapa suku, dan secara drastis mengubah batas-batas wilayah yang dimiliki sebuah suku. Ribuan lainnya meninggalkan tanah tradisional mereka, membebaskan sejumlah wilayah luas yang memberikan solusi kepemilikan tanah bagi Pakeha (ras Eropa).

Antara tahun 1840-an sampai 1870-an, Inggris dan pasukan kolonialnya berperang untuk membuka lahan pendudukan di Pulau Utara. Pada puncaknya, terdapat beberapa kombinasi masalah seperti: isu kedaulatan dalam penandatanganan Traktat Waitagi di tahun 1840, berkurangnya keinginan untuk menjual tanah kepada pemerintah, dan meningkatnya tekanan akan tanah karena bertambahnya populasi ras Eropa. Banyak ras Maori tewas mempertahankan tanahnya, sedangkan yang lainnya lebih memilih untuk beraliansi dalam beberapa koloni.

Ras Maori selalu berperang satu dengan yang lainnya. Konflik bertambah dengan meningkatnya populasi mereka, sumber daya alam akhirnya tidak cukup untuk kebutuhan mereka. Peperangan biasanya dimulai pada musim gugur, setelah persediaan makanan musim dingin dikumpulkan. Dengan menggunakan senjata-tangan tradisional seperti mere dan patu. Pemenang perang akan mendapatkan tanah dan harta serta peningkatan ‘mana’ (status). Sedangkan yang kalah akan segera bermigrasi ketempat lain yang belum berpenghuni.

Masa damai pada tahun 1850-an dicapai dengan cara yang tidak mudah. Keadaan pada saat itu telah sedikit berubah. Koloni-koloni dan tempat penggembalaan domba telah disebarkan juga di Pulau Selatan. Hal tersebut berbeda dengan keadaan di Pulau Utara. Kebanyakan koloni di pulau tersebut telah menyebar di garis pantai. Di tahun 1860, ras Maori masih memiliki 80% bagian pulau, dan kebanyakan dari mereka membuka pertanian komersial untuk suplai koloni.

Secara keseluruhan terdapat sekitar 3000 korban jiwa selama Perang Selandia Baru, mayoritas adalah suku Maori. Bagi masyarakat Maori hal ini hanya merupakan sebuah permulaan, karena dikemudian hari, pengambilan kepemilikan tanah merupakan nasib yang dialami oleh mereka yang bertahan. Setelah peperangan perjuangan akan hak tanah mencapai babak baru dengan fase yang lebih berbahaya, hal tersebut secara keseluruhan kemudian menciptakan babak sejarah baru dalam sejarah Selandia Baru.

(Musket adalah senjata api laras panjang yang menggunakan peluru besi bulat. Lazim digunakan pada awal abad ke-19 sampai pada tahun 1870-an. Senjata ini dirancang khusus untuk keperluan infantri. wikipedia.org)

Sumber:

New Zealand’s 19th Century Wars. http://www.nzhistory.net.nz/war/new-zealands-19th-century-wars/introduction


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: