Posted by: Nando | 27 May 2008

Selandia Baru dalam Perang “Boer” Afrika Selatan

Perang Afrika Selatan antara tahun 1899-1902, yang sering disebut juga Perang Boer (terkadang disebut juga Perang Boer Kedua), merupakan konflik luar negeri pertama yang melibatkan pasukan Selandia Baru. Dalam perang ini Selandia Baru bergabung bersama pasukan Kerajaan Inggris untuk menghadapi Republik Boer Afrika Selatan (Transvaal) serta sekutu Orange Free State-nya.

Terikat akan rasa kebersamaan dengan “negara induk” dalam ikatan Kerajaan, Perdana Menteri Richard Seddon mengajukan tawaran bantuan pasukan kepada Inggris di akhir 1899, dua minggu sebelum pecahnya konflik. Ratusan tentara akhirnya disiapkan, dan ketika perang dimulai pada 11 Oktober 1899, kontingen pertama kemudian diturunkan. Dalam beberapa bulan berikutnya, pasukan tersebut akan menghadapi kaum Boer.

Konflik di Afrika Selatan ini merupakan konflik kemerdekaan antara Kerajaan Inggris dengan Transvaal. Meskipun Transvaal telah dianeksasi pada tahun 1877, mereka memiliki kemerdekaan terbatas setelah mengalahkan pasukan kolonial dalam serangkaian aksi yang terkait dengan Pemberontakan Transvaal atau Perang Boer Pertama di tahun 1880-1881. Terkait juga dengan konflik tersebut adalah masalah keinginan para pendatang Inggris di Afrika Selatan untuk mendapatkan status warga negara.

Ketika masa damai akhirnya tiba dua setengah tahun kemudian, sepuluh kontingen yang terdiri atas para tentara sukarelawan, dengan total lebih dari 6.500 orang dan 8000 kuda telah dikirimkan ke Afrika, bersamaan dengan dokter, suster, ahli bedah, dan sekelompok kecil guru sekolah. Tujuh puluh sukarelawan tewas dalam perang, dan 158 lainnya tewas karena wabah penyakit.

Dalam beberapa sudut pandang perang Afrika Selatan juga melatarbelakangi keterlibatan Selandia Baru dalam kedua Perang Dunia. Unit-unit khusus, yang mayoritas terdiri atas sukarelawan, kemudian menjadi standar Selandia Baru untuk dikirimkan bergabung dengan pasukan-pasukan Kerajaan Inggris di belahan dunia lain. Kesuksesan yang diraih pasukan Selandia Baru memunculkan pemikiran bahwa orang-orang Selandia Baru secara alamiah baik dalam ketentaraan, yang hanya membutuhkan pelatihan tingkat menengah untuk tampil dengan baik dalam setiap medan.

Perang ini juga menguatkan perasaan identitas nasional masyarakat Selandia Baru, khususnya dalam hal kapabilitas fisik dan militer kaum pria Selandia Baru. Di waktu yang sama, perang juga meningkatkan rasa kebersamaan dan kesamaan kepentingan yang kemudian mengikat Selandia Baru dengan Inggris Raya dan semua bagian Kerajaan Inggris.

Sumber:

John Crawford. D.O.W. Hall, The New Zealanders in South Africa 1899-1902 (War History Branch, Wellington, 1949); I. McGibbon, The Path to Gallipoli, Defending New Zealand 1840-1915 (GP Books, Wellington, 1991). Dalam New Zealand in the South African (‘Boer’) War. http://www.nzhistory.net.nz/war/

Essay dari Oxford Companion to New Zealand Military History, disunting oleh Ian McGibbon dan Paul Goldstone (Oxford University Press, 2000). Dalam New Zealand in the South African (‘Boer’) War. http://www.nzhistory.net.nz/war/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: