Posted by: Nando | 28 May 2008

Selandia Baru dalam Perang Dunia Pertama

Tanggal 28 Juni 1914 Archduke Franz Ferdinand, putra mahkota Kerajaan Austria-Hongaria, bersama istrinya Sophie, terbunuh di kota Bosnia, Sarajevo. Dampak peristiwa tersebut yang juga dikenal sebagai Perang Besar kemudian turut melibatkan Selandia Baru.

Dalam Perang Dunia I, pasukan Selandia Baru diturunkan ditempat-tempat strategis seperti Gallipoli, Passchendaele, dan Somme. Perang ini telah menghilangkan nyawa 18.500 orang Selandia Baru dan 50.000 lebih korban luka.

Perang melibatkan sekitar lebih dari 100.000 orang Selandia Baru, kebanyakan pada gelombang pertama. Banyak dari mereka yang mendambakan petualangan besar, tapi apa yang kemudian dihadapi kenyataannya sangatlah berbeda.

Sebelum memutuskan untuk berperang, Perdana Menteri W.F. Massey telah memastikan bahwa kontribusi utama Selandia Baru adalah sebagai pemasok kebutuhan pasukan di setiap konflik. Setelah 5 Agustus 1914 persiapan dengan cepat dilakukan. Akan tetapi sebelum Selandia Baru mengirimkan pasukannya ke Eropa, seluruh ancaman langsung di kawasan Pasifik harus dihilangkan terlebih dahulu. Target pertama adalah menaklukan Samoa Jerman.

Jerman memiliki instalasi komunikasi radio di Samoa. Pada tanggal 6 Agustus Inggris menginformasikan pemerintah Selandia Baru bahwa penaklukan Samoa Jerman merupakan kepentingan utama Kerajaan saat itu. Intelijen Australia memastikan bahwa stasiun ini dilindungi oleh sekitar 80 orang petugas dan kapal patroli bersenjata. Jumlah ini tidak sebanding dengan jumlah New Zealand Expenditionary Force (NZEF) yang terdiri atas 1374 prajurit, dibawah pimpinan Kolonel Robert Logan, target akhirnya ditaklukkan tanpa perlawanan pada tanggal 29 Agustus. Wilayah ini merupakan wilayah teritorial kedua Jerman setelah Togoland di Afrika, yang harus jatuh ke tangan Sekutu dalam Perang Dunia Pertama.

Pada tanggal 23 Agustus Jepang ikut berperang bergabung dengan Sekutu, memastikan dominasi angkatan laut di Pasifik. Jepang dengan segera menaklukan wilayah utara Jerman di Khatulistiwa.

Setelah penundaan akibat beberapa misi, pasukan utama NZEF berangkat dari Selandia Baru pada tanggal 16 Oktober 1914. Pasukan tersebut awalnya akan ditugaskan untuk berperang di Perancis. Tujuan tersebut kemudian berubah setelah Kekaisaran Ottoman (Turki) ikut berperang dan bergabung dalam Triple Entente pada tanggal 5 November.

Pasukan Selandia Baru dan Australia dialihkan ke Mesir untuk menuntaskan pelatihan mereka. Dari situ mereka akan dikirim ke Semenanjung Gallipoli, Turki, pada April 1915. Lebih dari 2700 prajurit Selandia Baru tewas dalam operasi yang tidak sukses tersebut.

Setelah dievakuasi dari Gallipoli, pasukan Selandia Baru akan dikirimkan ke front barat (Perancis dan Belgia). Penyerangan ke Gallipoli dan kelahiran legenda Anzac telah mengilhami masyarakat Selandia Baru dari generasi ke generasi.

Sebagai bantuan, Brigade Senapan bergabung dalam penyerangan ke Sinai, Palestina. Sejumlah kecil prajurit Selandia Baru bertugas bersama angkatan laut dan angkatan udara Inggris.

Sumber:

New Zealand and the First World War. http://www.nzhistory.net.nz/category/tid/1664


Responses

  1. klo ga salah di indonesia waktu itu masih jamanya Boedi Oetomo ya…

  2. The war Is Amazing


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: