Posted by: Nando | 28 May 2008

Selandia Baru dan Perang Dingin

Pada bulan April 1954, Presiden AS Eisenhower berdasarkan Teori Domino menjelaskan perlunya peningkatan perhatian terhadap pengaruh komunis di Indochina. Eisenhower berpendapat bahwa jika komunis tidak dihentikan, maka akan segera jatuh juga seperti layaknya domino, Burma (sekarang Myanmar), Thailand, dan Indonesia. Dengan strategi tersebut, komunis dengan segera dapat mengincar Jepang, Taiwan, Filipina, Australia, dan Selandia Baru.

Beberapa kalangan menolak teori tersebut. Mereka berpendapat bahwa peperangan di Indochina lebih spesifik pada kondisi partikular dari negara-negara tersebut, seperti berkembangnya rasa nasionalisme, dan tidak berhubungan dengan komunisme dunia. Beberapa kritikus juga percaya bahwa teori tersebut hanya digunakan sebagai justifikasi kebijakan intervensi.

Perang Dingin di Selandia Baru

Selandia Baru turut merasakan dampak Perang Dingin dan hubungannya dengan konflik bersenjata. Dalam kasus Korea, pemerintah Selandia Baru menunjukkan komitmennya kepada Perserikatan Bangsa Bangsa dan pandangan keamanan kolektif-nya serta dukungannya kepada Amerika Serikat untuk membendung pengaruh komunisme. Kebijakan ini kemudian membawa Selandia Baru pada penandatanganan perjanjian-perjanjian keamanan seperti ANZUS (1951) dan Pakta Manila (1954) dan juga keikutsertaannya dalam aliansi yang didasarkan pada isu keamanan.

Perang Korea telah melambungkan perekonomian Selandia Baru. Amerika Serikat dalam usaha untuk memenuhi pasokan strategisnya, mengadakan pembelian wol Selandia Baru dalam jumlah besar (dalam sejarah Selandia Baru dikenal dengan peristiwa “wool boom”).

Urusan dalam negeri juga dipengaruhi oleh retorika dan tindakan-tindakan yang berhubungan dengan Perang Dingin. Seperti yang ditunjukkan dalam sengketa pelabuhan pada tahun 1951. Para anggota serikat ditanggkap dengan tuduhan sebagai komunis dan aksi mereka dikatakan melukai usaha-usaha dalam perang Korea. Pemerintahan Nasional Sidney Holland melakukan justifikasi terhadap penggunaan satuan bersenjata untuk memastikan seluruh pelabuhan di Selandia Baru dapat terus berjalan selama usaha melawan komunisme.

Keberpihakan dan partisipasi Selandia Baru dalam Perang Dingi ditentukan oleh keputusan pemerintahan Buruh pada tahun 1940-an untuk mendukung Amerika Serikat dan Inggris Raya dalam oposisi mereka terhadap Uni Soviet. Keputusan tersebut dipertanyakan, terutama oleh kaum kiri, yang mengatakan bahwa Partai Buruh telah menolak perdamaian dan sosialisme.

Sumber:

New Zealand and the Cold War. http://www.nzhistory.net.nz/war/new-zealand-and-the-cold-war


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: